Mamuju, Sulbarkita.com -- Bencana banjir melanda Mamuju, Sulawesi Barat, pada Kamis, 22 Maret 2018. Warga menganggap banjir kali ini adalah yang terparah. Banjir dengan ketinggian 2-5 meter tersebut mengakibatkan belasan rumah hanyut, puluhan orang luka-luka dan menyebabkan kerugian sekitar ratusan juta rupiah.
Menurut data yang Sulbarkita peroleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Barat, korban banjir mencapai 1.089 kepala keluarga dan 3.267 jiwa. Para korban kini menempati posko-posko pengungsian. Mereka hanya istirahat di atas karpet dan dikelilingi kardus minuman bantuan dari pemerintah dan para relawan.
Kepala BPBD Sulbar, Yusuf Darwin yang dijumpai bersama para korban di posko Jalan Pattana Endeng mengaku prihatin dengan peristiwa ini. “Warga belum pernah merasakan bencana seperti ini sejak 30 tahun terakhir,” ujarnya saat ditemui Sulbarkita.com, Jumat, 24 Maret 2018.
Yusuf menambahkan, salah satu faktor terjadinya bencana ini adalah penyempitan sungai yang berlangsung terus-menerus. “Sungai semakin sempit, ditimbun untuk pemukiman warga," kata dia. Namun memang faktor utamanya adalah tanggul sungai yang jebol dan hujan keras yang bersamaan dengan terjadinya air laut pasang.
Meskipun bantuan berkucuran baik dari pemerintah dan masyarakat, para korban terlihat masih trauma atas kejadian tersebut. Salah satunya Senati, 47 tahun, warga Simbuang 1, Kecamatan Simboro. Ia kini menempati posko di Jalan Abul Malik Pattana Endeng. Senati tidak memiliki apa-apa lagi. Rumah panggung yang ia tempati hanyut terbawa derasnya air. Harta benda tak satupun terselamatkan.
Perempuan yang berprofesi sebagai pedagang ini tinggal serumah bersama seorang cucunya, M. Fikram, 10 tahun. Kini, mereka tidak memiliki lagi tempat untuk bernaung. “Entah saya mau tinggal di mana lagi setelah ini. Hanya pakaian di badan yang saya punya,” katanya.
Saat banjir datang, Senati baru terbangun dari tidurnya. Ia seketika sangat panik setelah mendengar teriakan para tetangga. “Orang-orang berlarian, masing-masing menyelamatkan diri. Tidak lama kemudian, suasana sunyi, tak ada lagi orang. Saya lalu berenang bersama cucu saya menyelamatkan diri,” ujarnya.
Kini Senati tak berharap muluk-muluk. Ia mengaku sangat membutuhkan bantuan apapun. Meski itu hanya pemberian sederhana. [ERI]

Komentar Untuk Berita Ini (0)
Posting komentar